Kamis, 04 Maret 2010

Langkah 23 : Entikong Oh Entikong...

Hampir satu bulan gw berada di Perbatasan Entikong Kalimantan Barat, Indonesia-sarawak Malaysia. Dan disini pula gw melihat banyak pengalaman yang bisa gw ambil dan gw makan bulet-bulet lalu dibagikan ke orang lain biar semua tahu, gimana keadaan perbatasan ini. Semua yang belum kesini pasti mengira kalau Entikong itu sudah sangat berkembang, secara perbatasan adalah Beranda Depan suatu negara. So harus terlihat bagus dan indahkan. Itu juga yang gw rasain saat naik bis dari pontianak ke Entikong. Menaiki bis ini memakan waktu kira-kira tujuh jam sampe Entikong. Gw dah mulai curiga saat selama perjalanan yang gw temuin hanya semak belukar dan hutan. Jangan-jangan gw jadi salah satu korban Trafficking. Tapi pikiran itu ilang saat gw tanya abang keneknya "Bang ini betul ke Entikong ?". Lalu si kenek menjawab "Bener,,anda gak salah dek,,percayakan ama saya". (sambil menggemgam tangan gw erat). Inilah momen disaat gw pecaya banget sama seseorang,,hahaha. Gw bingung selama perjalanan ke Entikong, bener-bener jauh dari harapan. Berangkat dari jam 9 malam sampe jam 5 shubuh di Entikong. Saat gw turun dari bis hati gw berkata. "WELCOME TO THE TRUE JUNGLE WAHYU". Sambil menjulurkan tangan ke dada.
Sesampainya gw di tempat tugas gw, langsung kaget gw, ternyata eh ternyata banyak serangga disini..aaatttuuuuuutttt. Segala macam serangga ada disini cuy. Dari kumbang sampe keluarganya dan yang paling gw takutin adalah Kecoa disini besar-besar. Haddoooohhh mau teriak kaya di Jakarta, tapi gw malu ama bos, Muka bunga bangke hati bunga mawar..haha..
disini gw dikenalin ama pegawai semuanya. Ada reporter dari Pontianak Jang Rangga dan EKo, Tekhnisi dari Pontianak Bang Budi, Penyiar dari Entikong Chika dan Bang Tam, Keamanan dari Entikong Usuf dan Udin. Disini gw harus mencoba membaur kembali dan itu hal yang tersulit untuk mencoba akrab pada keadaan yang baru.
Baru sekitar seminggu gw disini, gw harus observe ke salah satu desa yang terisolir dimana tak ada listrik, air, balai kesehatan dan sinyal pula. Desa itu bernama Desa Badat Lama dan Baru. Untuk pergi kesana tak ada jalan darat, sehingga kita harus menaiki sampan selama kira-kira 7 jam sampai muara. Tak jarang juga kita harus turun dari sampan dan melewati hutan, karena sampan tak mungkin lewat arus air yang besar dan dipenuhi batu besar. Sesampainya 7 jam, kita sampai di muara atau semacam terminal sampan. Dari sana kita harus berjalan kaki selama 3 jam untuk menuju dusun Badat Baru, setidaknya itu kata orang-orang sana yang biasa naik gunung. Pas gw coba ama temen gw Bang Budi untuk terus melangkah sampe tujuan, gw ngerasa ini kaki gak bisa ngelangkah lagi. Padahal tadinya gw paling depan dan gw terus tersusul oleh kontestan lainnya. Gw duduk dipinggir jalan yang luasnya cuma 1 meter sambil dilalui orang-orang.
Gw : "Hhhhh,,Hhhhhh,,Hhhhh,,Nggiiikk". (bengek).
Orang 1 : "Capek mas ?". (sambil berlalu).
Gw : "Gak,,hobi aja narik napas". (senyum gak jelas).
Orang 2 : "Istirahat mas?".
Gw : "Gak,,lagi push up".
Ibu-ibu : "Ayo Mas,,SPIIRRIITT..!!". (sambil bergaya kaya Primus).
Gw : "....................". (mata dah kunang-kunang).
yang tadinya target 3 jam sudah sampe di dusun Badat Baru, eh ternyata gw nyampe 4 jam. Itu juga gw dah lemah gemulai. Sesudahnya sampe di dusun Badat Baru, gw istirahat sebentar, minum es kelapa sambil tanya-tanya kepala dusun disana. Dan berdasarkan informasi yang gw dapat. Warga disini gak terlalu bisa bahasa Indonesia, mereka hanya bis bahasa Malaysia. Dan banyak warga mereka yang menjadi warga negara Malaysia karena kalau di Indonesia mereka tak akan maju, paling tidak itulah anggapan mereka. Gw gak bisa komen apa-apa lagi pas mereka mengeluhkan perlakuan Pemerintah sehingga mereka menggantungkan nasibnya pada negara tetangga. Gw hanya bisa diem dan diem, ternyata selama ini gw terus mengeluh hidup di Jakarta, macetlah, banjirlah apa aja. Tapi mereka lebih berat kehidupannya. Gw hanya berkata pada diri gw sendiri "MANJA".
Akhirnya selesai lah gw beristirahat di dusun Badat Baru dan siap melanjutkan perjalanan ke Dusun Badat Lama. Yang gw denger perjalananya memakan waktu 3 jam dengan jalan kaki karena harus naik gunung gak mungkin naek motor. Ternyata bener, struktur jalannya kaya gunung beneran dan gw harus merangkak kalo gak mau jatuh ke jurang. Secara kanan kiri gw jurang. Semua pada ngasih semangat ke gw dan kawan gw karena gw berdua yang paling keliatan gak kuat. Sekitar jam 6 sore gw sampai di Badat Lama dan sekitika itu juga lelah gw ilang karena disambut oleh para warga disana dengan adat dan kebudayaan yang indah banget. Gw Mau nangis iya dah. Ternyata ada orang hidup disini, ternyata masih ada masyarakat yang setia menggenggam bendera merah putih walau keadaan mereka begini. Sekolah pun hanya ada satu dan terletak di Dusun Badat Baru. Kalau anak-anak dusun Badat Lama ingin sekolah mereka akan melewati trek yang sama yaitu curam dan licin. Tak jarang juga kalau hari hujan mereka tak pergi kesekolah. Tapi gw salut ama sambutan mereka, bener-bener luar biasa. Sampe gw ngbrol-ngbrol ama guru dan guru tersebut hampir nangis. Secara mereka hanya ada 2 guru ngajar enam kelas.
Mudah-mudahan perjalanan gw ini bisa menjadi informasi yang dapat mengubah keadaan dan dapat menggugah hati Pemerintah. Terima kasih warga dusun Badat baru dan Lama, terima kasih sama Pak Kades entikong pak Imran atas kesempatannya.