Jumat, 20 Januari 2012

Langkah 41 : Education Like a God

Hola Pembaca..


Berbicara mengenai pendidikan, seberapa pentingnya pendidikan bagi kalian?. Gw yakin lo semua menjawab "SANGAT PENTING". Dari Sekolah Dasar (SD) kita naik ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dari SMP kita naik lagi ke SMA dan seterusnya sampai lambang S1 dan lainnya terpampang di resume atau CV kita. Semakin tinggi angka disamping "S", maka semakin berpeluanglah kita mendapat pekerjaan. D3, S1 dan lain sebagainya menyingkirkan semua orang yang bertitel SD, SMP dan SMA. Bahkan, orang yang bertitel SD sudah harus dikandaskan harapannya saat melihat papan lowongan pekerjaan (DIBUTUHKAN SARJANA).


Padahal negara kita masih banyak masyarakat yang hidup dibawah angka kemiskinan. Mereka berjuang mengais rezeki untuk mensekolahkan anak mereka. SD yang harus ditempuh selama 6 tahun, bagaikan berabad-abad lamanya bagi mereka. Kalau mereka masih kuat membiayai anaknya mereka akan terus berjuang. Tak peduli seberapa susah dan kerasnya mereka mencari biaya untuk sekolah anak mereka. Anak yang diharapkan sebagai pengubah nasib, malah akhirnya hidup seperti orang tuanya. Tidak jauh beda dan tetap menjadi miskin.


Kalau gw lihat tidak semua orang yang mempunyai pendidikan yang tinggi itu pinter. Banyak instansi-instansi yang menjadikan patokan tingginya pendidikan orang itu sama dengan kenaikan posisi yang penting. Tetapi hasilnya nihil. Banyak orang yang duduk dijabatan mereka tidak pada bidangnya. Hasilnya mereka tidak tahu apa. Sebaliknya orang yang mempunyai pendidikan pas-pas an, padahal orang itu mempunyai banyak pengalaman dibidang itu.


Pernah saat itu gw ke perbatasan, lebih tepatnya di daerah Kalimantan Barat, Dusun Badat Lama, Entikong. Di sana semua anak-anak sangat susah untuk pergi ke sekolah. Disana hanya terdapat satu SD. Mereka harus turun gunung saat ingin sekolah dengan waktu tempuh kira-kira dua jam. Karena jalurnya yang ekstrem, ketika turun hujan, mereka harus memendam keinginannya untuk sekolah. Jangan kan sekolah, guru pun disana hanya ada dua guru. Itu juga hanya mereka yang rela ditempatkan disana. Yang lain menolak.


Jadi, Pendidikan itu sekarang sudah menjadi seperti Tuhan. Semua menjadi acuan orang agar meraih sukses. Tuhan memberikan kita kesempatan untuk sukses dalam berbagai cara, bukan hanya dari label pendidikan. Walaupun dalam meraih sukses kita sering di gagalkan karena label pendidikan, bukan pendidikan itu yang menggagalkan kita, Tapi manusia itu sendiri.


Tuhan tak pernah inginkan membuat kita miskin, tetapi manusia terkadang bisa membuat kita tetap miskin.


Published with Blogger-droid v2.0.3

Jumat, 13 Januari 2012

Langkah 40 : Gombalisme Dari Jaman ke Jaman

Hola hola!!


Akhir-akhir ini banyak yah para pemuda dan pemudi Indonesia yang mengeluarkan kata-kata beraliran "gombal" Atau kita sebut saja mereka itu menganut faham Gombalisme. Sebenarnya, kata-kata gombal atau faham gombalisme itu sudah ada sejak dahulu kala. Tapi memang seiring jaman yang berubah, kata-kata itu juga mengalami perubahan. Kalau kata gombal jaman dahulu itu mengandung ungkapan perumpamaan, tapi kata gombal jaman sekarang ini mengandung ungkapan berandai-andai. Contohnya,


Kata Gombal Jadul:


Sang cowo:  " Dek". Ungkap sang gombalisme


Sang cewe:  "Iya bang". Sambut sang korban.


Sang cowo:  "Mau beli apa Dek?"


Sang cewe:  "Cimol dua karung Bang!"


Oke yang itu cuma bercanda....lanjuttt!


Sang cowo:  "Dek"


Sang Cewe:  "Iya Bang"


Sang cowo:  "Kalau Ade jadi Bunganya, biarkan Abang jadi kupu-kupunya"


Itu kalau kata gombal jaman dahulu. Kalau sekarang..


Sang cowo:  "Beib"


Sang cewe:  "Yoi beib"


Sang cowo: "cinta kamu itu bagai bulu ketek yah"


Sang cewe:  "maksooodd lohhhh beib??!!"


Sang cowo:  "walau dicukur berkali-kali tetep aja numbuh beib!"


Nah, perubahaan kata-kata gombal jaman dahulu dan sekarang juga diikuti oleh perubahaan oleh reaksi para korban. Kalau jaman sekarang ini biasanya reaksi sang korban setelah menerima kata-kata gombal akan berteriak "EEEEEEAAAAAAAAAAAA!".


Tapi, kalau jaman dahulu itu reaksi sang korban sungguh sangat berbeda. Biasanya, setelah menerima kata-kata gombal sang korban akan memukul-mukul kecil pundak sang pacar sambil berkata "aahhhh abannnggggg, ade jadi maauuuuuu". Lalu sang pacar bilang "mau de?? Ayo de!!"...hahaha. Selain itu, tingkah korban lainnya adalah lari sprint lalu jatuhkan diri dengan pasrahnya ke kasur (gak kebayang kalau sang korban adalah prety asmara) sambil guling-gulingan. Atau sang korban lari ke hutan dan berteriak (hmmm kaya pernah gw denger nih).


Ada perbedaan lainnya, kalau biasanya sang gombalisme jaman dahulu itu saat ini sudah menjadi tua atau bahkan sudah meninggal and sang gombalisme saat ini biasanya belum lahir atau masih bayi saat jaman dulu. Ya iyyaaaaallllllllllaaaaahhhhh!!.


Nah, gak masalah kalian mau memakai kata-kata gombal yang seperti apa. Yang penting biarkan kata-kata itu tetap gombal, tapi hati kalian tetep tulis. Tuluuusssssssss!!!!.


Published with Blogger-droid v2.0.3

Selasa, 03 Januari 2012

Langkah 39 : Bayi Rebus

Holaaaaa Happy New Year 2012 teman!!!!


Banyak sekali status-status di jejaring sosial seperti facebook, twitter dan lain sebagainya pasti berisikan harapan-harapan dan juga ucapan-ucapan selamat tahun baru di share yah atau di tulis. Ada yang isinya senang ada juga yang sedih. Setiap status yang kalian tulis itu menurut pengamatan gw yang telah dilakukan selama 3 menit ini, mengartikan banyak hal yang malah kebalikannya. Jadi sugesti yang terkontaminasi oleh transmigrasi dan terasi berbanding terbalik oleh urbanisasi dan korupsi. Bingung yah? Apalagi emak gw yanh lahirin gw. Nah begini contohnya:


Status temen gw sebut saja mawar


"Gak sabar deh nunggu tahun baru 2012 so exited!!"


Nah status temen gw ini mengartikan bahwa sebenernya dia gak terlalu berharap tahun 2012 cepet-cepet datang. Kenapa eh kenapa, karena eh karena mungkin si Mawar ini merasakan kebahagian yang cukup banyak di tahun 2011 lalu. Dia sebenarnya takut kalau di tahum 2012 ini malah terjadi kebalikannya. Maka dari itu dia menulis status tersebut untuk memprogram rasa optimismenya naik. Pas gw pastikan ke teman gw itu dia menjawab "sotoy lo!!". Nah terbukti. (Apaan yang terbukti coba?)..


Jadi sugesti yang berbunyi "pikiran yang optimis, menjadikan hidup kalian lebih baik" sudah benar-benar tertanam di banyak masyarakat Indonesia. Banyak orang-orang yang ingin membangkitkan rasa optimisme hidupnya dengan cara selalu berpikiran bahagia. Nah maka dari itu juga, banyak orang-orang yang menghabiskan malam tahun baru dengan jalan-jalan atau berpesta. Dan cara ini sudah menjadi tradisi sebagian besar masyarakat di dunia. (Tunggu, tunggu...kok jadi serius yah pembahasannya. Oke kembali ke mesin tik).


Jadi malam tahun baru lalu gw pergi bersama pacar gw ke suatu tempat makan di kawasan Jakarta Utara yang selalu ramai tiap malam pergantian tahun. Sebenernya gw pengen ke Monas sebelum kesana. Tetapi saat melihat padatnya kendaraan yang memenuhi kawasan itu membuat motor gw berkata "tolong jangan menambah penderitaan saya lagi tuan. Gendong kalian aja saya sudah gak kuat!". Akhirnya dengan berat hati dan barbel 3 kilo, gw putuskan langsung menuju kawasan makan itu. Sesampainya di Kemayoran motor gw gak bisa masuk kedalam kawasan itu. Yap, macet ternyata sudah menyerang kawasan itu. Padahal masih jam 9 malam. Terpaksa gw memarkir kendaraan gw jauh dari tempat makan yang gw tuju. "Bu Iis" nama tempatnya selain enak makanannya, tempat itu menjadi kenangan saat gw ditolak pertama kalinya oleh pacar gw ini..╮( ̄▽ ̄")╭ ckck anak muda!!.


Walaupun sudah parkir dan memutuskan untuk jalan kaki, ternyata tidak mudah. Penuhnya pengunjung membuat gw berdua susah jalan. Kadang-kadang gw harus kayang dan salto untuk menghindari para pengunjung lain yang berdesak-desakan memenuhi kawasan itu. Gak jarang gw lihat orang-orang menggelar tikar dan langsung tiduran sambil menunggu jam 12 malam. Ibu-ibu, Bapak-bapak, sampai balita opun tiduran disana. Pertama gw pikir apa mereka gak punya rumah? Atau sangkin niatnya pengen liat kembang api sampai tidur disana?. Kalau kita sih yang dewasa gak apa-apalah yah, tapi yang masih balita ini, kasian gw melihatnya. Pemandangan itu terus gw liat disepanjang jalan. Sesampainya di warung makan Bu Iis, ternyata gw melihat suatu hidangan yang cukup membuat kulit Mpok Nori kembali kenceng.


Bayi rebus..wkwkwk


Published with Blogger-droid v2.0.2