Terima kasih, terima kasih. Silahkan duduk kembali!!. Yap, setiap manusia di bumi ini pasti mempunyai satu hal yang istimewa di dalam dirinya. Mau dia culun, ingusan, upillan, belekkan, item, bernafas lagi, pasti ada kelebihan di dalam dirinya atau bisa disebut "Bakat". Bakat bukan kepanjangan dari Bakso Urat, bukan, bukan itu saudara-saudara. Tetapi bakat adalah pemberian Tuhan yang Maha Esa dengan bentuk yang beraneka ragam di dalam diri kita (dari tadi gw nulis di dalam terus yah,,ada apa dengan kata "di dalam" ckcck). Bentuk bakat itu macam-macam, ada bakat musik, tari, menulis, menyanyi, menanam padi, pokoknya di segala bidang lah. Tetapi dalam mencari sebenarnya bakat apa yang ada di diri kita, itu butuh sebuah proses yang cukup panjang dan memalukan. Seperti halnya gw.
Dari gw duduk di Sekolah Dasar atau SD, gw mencari-mencari apa sebetulnya bakat yang gw miliki. Awal mulanya gw beranggapan bahwa bakat yang gw punya ada di dalam mata pelajaran Matematika. Setiap kali diajar berhitung sama kakak, gw selalu bersemangat. Walaupun sesudahnya, kakak gw lari sambil menangis tersedu-sedu ke kamarnya (kaya mau dilamar yah). Saat disuruh guru gw maju untuk mengerjakan soal matematika di papan tulis, yang gw lakukan hanya menggesek-gesek kapur di papan tulis sampai membentuk pola seperti peta buta, sesekali melihat kebelakang berharap ada teman yang iba memberikan bantuan call a friend, sesekali menatap muka sang guru berharap dia menyerah dan memberi tugas itu kepada yang lain dan sesekali melihat ke langit-langit kelas berharap Tuhan memberikan jalan yang terbaik buat gw. Saat itulah gw sadar, bahwa Matematika adalah bukan bakat gw.
Duduk di Sekolah Menengah Pertama atau SMP, gw terus mencari bakat gw. Saat itu setiap Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus, kebetulan daerah tempat tinggal gw selalu mengadakan panggung kesenian. Mulai dari tari sampai seni drama. Seni tari adalah hal pertama yang gw coba...hahahaha (kalo di inget-inget bikin mual sendiri). Tari pertama yang gw pentaskan adalah tari betawi. Bukan tari adat betawi yah, tetapi tari ciptaan sendiri diiringi lagu "Si Doel Anak Betawi". Inspirasinya saat itu karena film Si Doel Anak Betawi sedang hot-hotnya diputer. Dikumpulkan lah anak-anak berbakat seperti gw ini dan temen-temen untuk menari. Kita ciptakan gerakan seadanya dengan sesekali gerakan perut yang menggoda sambil berdoa takakan terjadi bencana saat malam pertunjukkan nanti. Akhirnya tibalah malam pertunjukkan yang kita tunggu-tunggu. Sebelum tampil kita dipanggil oleh penata rias untuk dipakaikan kumis. Karena gak ada kumis-kumisan waktu itu, digambarlah sebuah kumis diantara hidung dan mulut gw dengan spidol. Yap, spidol!!. Karena bagi si kecil wahyu, mempunyai kumis di umur yang sedini itu adalah sebuah kebanggaan yang besar bagi dirinya, jadi mau pake spidol, pulpen, cat atau lainnya gak bakal jadi masalah. Saat mulai menari puluhan janda-janda muda mulai berteriak histeris, kakek-kakek kejang-kejang, ibu-ibu pingsan dan para anak gadis mendadak tak perawan lagi. Pokoknya luar binasa malam itu. Walaupun gerakan kami nggak singkron dengan musiknya, yah tak apalah. Toh para anggota karang taruna sudah puas tertawa melihat kita.
Sebenarnya masih banyak yang gw lakukan dalam mencari bakat. Tetapi karena gw menulis ini pada pukul 2 pagi, mata gw pun sudah meminta untuk di off kan, jadi kita lanjut nanti di langkah-langkah selanjutnya. Yang pasti, teruslah berusaha dan tidak takut mencoba dalam mencari bakat anda. See you!!!
Published with Blogger-droid v1.7.4

Tidak ada komentar:
Posting Komentar